01170 2200181 4500245004100000020002200041250001100063100001600074700001800090650001700108005001900125260002900144041001400173084001100187300002700198500075400225336000900979 aSang Maha SentanacFiliananur_hText a978-979-794-788-0 aCet. 1 aFiliananur_ aPuji Hanifach aFiksi Remaja a20250310080919 aJakartabMediakitac2022 aIndonesia a808.83 aiv, 316 hlm. :c19 cm. aPara jongos tampak wira-wiri di suatu rumahdi daerah Yogyakarta. Pemandangan itu tampak tak asing bagi seorang pria berumur 22 tahun yang tengah duduk di ranjang berkelambu cokelat. Aroma dupa yang baru saja dibakar oleh pelayan pribadinya menguar lembut. Untaian jarik, stagen, dan surjan berwarna hitam baru saja disiapkan lengkap dengan ikat kepalanya. Tok! Tok!"Tuan Sentana, sampunª, ditunggu Romo di ruang makan.” “Nggih³, Mbakyu.”Bukan Sentana yang membalas panggilan dari seorang pelayan di luar sana, melainkan Jaka, pelayan Sentana. Mendengar itu, Sentana berdiri, membiarkan Jaka membantunya menggunakan semua atribut pakaian yang sudah disiapkan. Badan tegap dengan rambut yang hitam legam tampak membuat Sentana terlihat tampan. atext